Cemas? Tersenyumlah!

Satu hal yang cukup menarik ketika kemudian perasaan yang satu ini datang pada pikiran kita, Kecemasan. Saya cukup tertarik untuk membahas masalah ini, bukan karena saya tidak pernah cemas namun sebaliknya karena saya merasa makhluk yag satu ini sering hinggap di pikiran saya. Tapi masalahnya kemudian adalah bagaimana kita mengontrol dan mengendalikan kecemasan kita

Kata cemas berbanding terbalik dengan kata tenang. Dan menariknya, pada kenyataannya orang  akan lebih menyukai orang yang terlihat tenang karena ketenangan merefleksikan kepercayaan diri dan kebahagiaan yang jika diruntut akan berujung pada rasa syukur. Ketika berada didekat orang yang bersikap tenang kecenderungannya kita akan terbawa dalam ketenangan, seperti halnya kebahagiaan kita senderung senang berada bersama orang yang sedang senang. Saya meyakini hal ini sebagai peristiwa resonansi jiwa.

Kembali lagi ke kecemasan, menurut Stuart dan Sendeens, Kecemasan dapat didefininisikan sebagai  suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah, ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui atau dikenal. Dan menurut teman baik saya kecemasan dan kekhawatiran terjadi karena tidak seimbangnya akal dan iman(han han). Hal ini terjadi karena adanya konflik psikis yang tidak disadari.

Kenapa Kecemasan menjadi sangat berbahaya?

Hinggapnya rasa cemas akan sangat berpengaruh negatif bagi individu, setidaknya akan ada beberapa efek seperti ketidak percaya dirian, merasa tidak berharga, dan akan mempengaruhi sikap terhadap ekspektasi yang kita bentuk sebelumya.

Dan seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa kecenderungan dalam hukum pergaulan orang akan lebih menyukai orang yang tenang.

Gejala Awal Kecemasan

Gejala awal yang kemudian timbul ketika seseorang dilanda kecemasan adalah munculnya fight or flight response (bertarung atau lari menghindar) yang dipicu meningkatnya adrenaln dalam tubuh.

Secara fisiologis, orang yang sedang cemas dapat dilihat dari tanda-tadanya seperti jantung berdebar, denyut nadi cepat, nafas tak berarturan, tekanan nadi menurun, produksi keringat meningkat, banyak melakukan reaksi yang tidak perlu seperti garuk-garuk kepala, pandangan tidak fokus dan sebagainya.

Disamping respon fisiologis, respon psikologis yang kemudian akan timbul adalah Gelisah, gugup, bicara cepat dan tidak ada koordinasi, un-focus, konsentrasi hilang, mudah lupa, terlihat bingung,  kawatir yang berlebihan, dan lain-lain.

Kemudian Saya Harus Bagaimana?

Saya berfikir kalau jawabannya ada dalam pikiran kita. Pikiran memiliki kekuatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, dan itu sangat berpengaruh pada apapun yang kita rasakan dan bahkan kita dapatkan. Berpikirlah dengan positif dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Ketika kita merasa dan berpikir kita bisa kita berupaya untuk menularkan energi positif itu ke seluruh sel dalam diri kita, mengalirkan dalam peredaran darah kita, menyimpan pada otot-otok kita. Bukan berarti kita kemudian sombong dan merasa paling hebat.

Possitive thinking and Positive Feeling

Yang  jelas, harus ada keselarasan antara apa yang kita pikirkan dengan apa yang kita rasakan. Antara logika (otak/ fikir) dengan perasaan (keyakinan/ kalbu) haruslah sesuai, karena menurut saya pribadi, saya setuju dengan pendapat teman saya diatas kalau ketakutan dan kepanikan terjadi karena tidak seimbangnya akal dan iman.

Jadilah diri sendiri dan jangan pernah takut untuk menjadi diri sendiri. Kita merasa orang  lain lebih baik dari kita, tapi apa yang baik bagi orang lain belum tentu baik untuk kita (pembahasan selanjutnya)

Selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki, dengan kebahagiaan yang kita dapat, masalah yang kita punya dan jangan menghitung-hitung kesulitan yang kita alami akan cukup ampuh untuk membuat batin kita tenang. Dan tak lupa berterima kasihlah, dan tersenyumlah

Faktor fisik akan sangat mempengaruhi psikologis seseorang, dan oleh karenanya cobalah untuk membuat diri anda nyaman dan tenang. Pikirkan situasi dimana anda bisa mencapai tingkat relaxasi yang tinggi dan andapun akan merasakan suasana itu. Memikirkan kesenangan dan memvisualisasikannya dalam pikiran memiliki efek yang sama dengan merasakan kesenangan itu secara langsung.

Tersenyumlah, karena dengan senyuman akan membawa rangsangan kebahagiaan pada jiwa dan membuat kita cenderung lebih merasa tenang dan santai. Di samping itu orang yang tersenyum lebih menarik bagi orang lain karena dia mampu menularkan energi positif pada lingkungannya. Bernafaslah dengan tenang, tarik nafas dalam dalam dan keluarkan dengan perlahan. Aturlah ritme nafas dan relax-kan pikiran anda.

One Response

  1. new site

Leave a Reply

Sumber Pencarian :