Manajemen Resiko Bank Syariah, By : Dani Atmaja (uin suka)

Manajemen Resiko Bank Syariah

Resiko mempunyai arti penting dalam sistem keuangan Islam. Beberapa kitab fikih mendeskripsikan bahwa hak untuk mendapatkan keuntungan dari suatu asset selalu dibarengi dengan kemungkinan untuk mengalami kerugian dari suatu asset. Pada posisi bunga, hal ini tidak berlaku karena dalam kontraknya terjadi pemisahan yaitu dengan keuntungan yang tetap. Akibatnya resiko akan kerugian akan ditanggung si peminjam. Oleh karena itu, Islam melarang praktek yang seperti ini.

Namun demikian, sebagian pelaku ekonomi dewasa ini lebih menyukai kecenderungan untuk menggunakan prinsip bunga. Hal ini dikarenakan adanya sifat dasar manusia yang berusaha untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mengharapkan kerugian yang kecil bahkan tidak mengalami kerugian. Meskipun pada dasarnya para ulama tidak juga menentang pendapat seperti itu.

Dengan dilarangnya prinsip yang digunakan pada ekonomi konvensional yang berbasis pada bunga (pemisahan antara keuntungan dan resiko kerugian), maka dalam Islam berusaha untuk memberikan solusi dalam bertransaksi. Solusi tersebut adalah digunakannya sistem profit and loss sharing atau yang lebih dikenal dengan sistem bagi hasil. Dengan menggunakan prinsip ini, maka nilai keuntungan sebuah asset akan sama dengan besaran resiko kerugian daria asset yang sama. Resiko ini memberikan 100% keadilan dari segi prinsip sebuah bisnis kebanyakan. Dengan demikian, stabilitas ekonomi akan dapat terjaga dengan baik.

Manajemen Resiko Bank Syariah

Bank Syariah didirikan dengan tujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip Islam dalam bidang mu’amalah ke dalam transaksi keuangan dan perbankan. Prinsip utama yang diikuti oleh bank syariah adalah larangan praktik riba dalam berbagai bentuk transaksi, melakukan kegiatan usaha dan perdagangan  berdasarkan perolehan yang sah, dan upaya menyuburkan zakat sebagai alat distribusi kekayaan.

Pembiayaan merupakan salah satu fungsi lembaga keuangan, khususnya  bank syariah dengan cara menyaluran dana atau yang dapat dipersamakan dengan itu dengan tujuan untuk memenuhi pihak yang kekurangan dana (deficit) atau sering disebut dengan debitur yang salah satu tujuannya adalah untuk mendukung investasi yang telah direncanakan.

Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak  pertama (shahibulmaal) menyediakan seluruh modal (100%), sedangkan pihak lainnya menjadi  pengelola. Keuntungan usaha bersama dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Sedangkan  bila mendapat kerugian akan di-tanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si  pengelola. Namun bila dia ikut andil dalam kerugian itu, maka dia wajib menanggungnya.

Menurut Bank Indonesia dalam Laporan Perkembangan Perbankan Syariah sejak tahun 2010-2014, dilihat dari jenis akadnya, secara umum  penyaluran pembiayaan perbankan syariah masih didominasi oleh akad murabahah (jual beli), dibandingkan dengan penyaluran dengan akad mudharabah. Jika disandingkan dengan teori yang ada, seharusnya pada  pembiayaan dengan sistem bagi hasil ini mengalami kenaikan nilai permintaan. Karena pada dasarnya pembiayaan inilah yang sesuai dengan hukum Islam (syariah). Serta pembiayaan dengan sistem bagi hasil ini yang dapat menghasilkan keuntungan tinggi bagi semua pihak.

Manajemen risiko merupakan unsur penting yang penerapannya sangat perlu diperhatikan, khususnya pada bank sebagai salah satu lembaga keuangan syariah. Penyusunan kerangka kerja, struktur dan perangkat yang efektif untuk memonitor risiko dengan menggunakan pendekatan Enterprise Risk Management (ERM) telah dimulai di tahun 2007. Selama 2007, pekerjaan telah diseleseikan dalam mengidentifikasi risk event dan merencanakan skenario untuk meningkatkan efektifitas bank dalam kemampuannya menggapai potensi atau terjadinya risk event.

Secara umum, risiko yang dihadapi perbankan syariah merupakan risiko yang relatif sama dengan yang dihadapi bank konvensional. Selain itu, bank syariah juga menghadapi risiko yang memiliki keunikan tersendiri karena harus mengikuti prinsip-prinsip syariah. Risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional dan risiko likuiditas harus dihadapi bank syariah. Dalm konteks penerapan manajemen risiko, pedoman yang dijalankan selama ini, sebagian besar di desaign untuk bank-bank konvensional, tetapi juga telah diramaikan oleh bank dengan prinsip syariah yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Maka bagaimana penerapan manajemen risiko pada bank-bank syariah? Seperti halnya bank konvensional, kerangka manajemen risiko dapat membantu bank syariah mengurangi eksposur terhadap risiko dan meningkatkan daya saing di pasar. Bank syariah harus mampu untuk menerapkan manajemen resiko yang komprehensif untuk melakukan identifikasi, pengukuran, pengawasan, pengelolaan, pelaporan, dan pengendalian berbagai jenis resiko.

 

oleh : Dani Atmaja (uin suka)

Leave a Reply

Sumber Pencarian :
bank syariah resiko di tangung sama, definisi managemen resiko syariah, definisi manajemen resiko bank syariah, jurnal manajemen resiko bank syariah, jurnal manajemen resiko institusi finansial islam, manajemen resiko bagi hasil, solusi dari risiko yang dihadapi bank islam